Penulis: Husnul Abid

MTsN Gresik – Alhamdulillah, prestasi kembali diraih oleh peserta didik MTs Negeri Gresik. Prestasi kali ini dipersembahkan oleh Avrillia Diva Candini kelas 9A, di ajang MANIFISCO  (MAN 3 Festival of Science and Culture) 2024 yang diselenggarakan oleh MAN 3 Bantul Yogyakarta Tingkat Nasional.

Manfisco merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh MAN 3 Bantul sebagai wadah bagi peserta didik untuk menunjukkan bakat dan kreatifitas mereka di bidang sains dan budaya. Pada tahun ini, Manfisco mengusung tema “Bangkitkan Semangat Generasi Muda Menuju Prestasi Gemilang”.

Dalam kompetisi Story Telling yang berlangsung, kepiawainnya membawakan Story Telling dengan judul “The Islamic Scientist (Ibnu Sina”) mengantarkan Diva sukses meraih juara I, dengan perolehan nilai 910 di babak final. Sebelumnya, di ajang MANIFISCO ini, Diva mengikuti dua babak. Babak pertama diikuti secara online, dengan mengirimkan video ke Panitia. Setelah lolos penilaian di babak pertama, Diva melanjutkan ke babak Final di MAN 3 Bantul Yogyakarta. Minggu, (19/02)

“Saya sangat senang dan bangga bisa meraih juara I dalam Story Telling di Manfisco tahun ini, terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung saya, terutama kepada guru-guru dan orang tua saya.” Ungkap Diva

Mendngar kabar prestasi ini, Kepala madrasah, bapak Pamuji memberikan apresiasi yang luar biasa. Prestasi ini membawa harum nama madrasah di tingkat Nasional.

“Selamat buat Diva, Prestasi yang diraih diharapkan dapat menjadi motivasi bagi peserta didik lainnya untuk terus berkarya dan berprestasi”. Ungkapnya.

Sementara itu, bapak Abdul Aziz selaku Waka Kesiswaan mengatakan bahwa, prestasi ini merupakan bukti bahwa peserta didik MTs Negeri Gresik memiliki potensi yang luar biasa. Oleh karena itu, madrasah terus berupaya memberika pendidikan dan bimbingan yang berkualits. Unutk bisa berkualitas, maka hal itu tidak luput dari peran dari semua stake holder madrasah untuk mendorong agar Peserta didik MTsN Gresik selalu menjadi yang terbaik, khususnya dalam meraih prestasi. (Humas)

Kab. Gresik (MTsN Gresik) dalam rangka mensukseskan Ujian Madrasah Tahun Pelajaran 2023-2024, Madrasah Tsanawiyah Negeri Gresik menyelenggarakan Ziarah Wali bagi kelas 9. Ziarah wali diikuti oleh seluruh peserta didik kelas 9 sejumlah 349 anak dengan didampingi oleh wali kelas dan guru pendamping.

“Jumlah peserta kelas 9 ada 349, namun yang ikut sebanyak 338, ada 3 peserta tidak ikut karena alasan tertentu. Dan pendamping 23 dari guru.” Kata Abdul Ghofur, Koordinator Ziarah Wali kelas 9.

Tujuan dilaksanakan ziarah wali, sebagaimana di utarakan oleh bapak Pamuji selaku kepala madrasah, adalah untuk melakukan do’a bersama agar hajatnya MTsN Gresik hususnya kelas 9 yang akan mengikuti serangkaian ujian dimudahkan oleh Allah SWT. Senin, (20/02)

Destinasi ziarah wali start di makan Maulana Malik Ibrahim, dilanjutkan ke  Makam Sunan Giri, kemudian langsung menuju ke makam Raden Rahmat, Sunan Ampel Surabaya dan berakhir di makam Syakhona Kholil Bangkalan Madura.

Kegiatan Ziarah Wali, selain kegiatan rutin tahunan, juga merupakan salah satu kegiatan Sukses Madrasah untuk kelas 9. Hal ini merupakan sebagai wujud karakter peserta didik di MTsN Gresik dalam mempersiapkan mental dan spritual. Di tempat makam,  peserta didik diajak untuk ber-tawasul kepada Allah dengan mengharap barakah-nya para Wali Allah semoga hajat dan keinginan MTsN Gresik dapat dikabulkan oleh Allah SWT. Hususnya peserta didik kelas 9 yang akan melaksanakan Ujian Madrasah diberikan kelancaran.

Peserta didik bersama-sama memanjatkan doa dan dzikir kepada Allah SWT dengan membaca istighasah dan tahlil. Bermunajat kepada Allah menundukkan kepala dan membuka hati dengan rintihan do’a yang dipanjatkan. Dengan harapan semoga kesuksesan selalu mengiringi langkah untuk masa depan yang lebih baik.

Tawasul dengan membaca istighasah dan tahlil bersama yang dipimpin oleh guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)  bapak Malikussholeh dan Ahmad Jauhari tersebut berlangsung sangat khidmat.

”Alhamdulillah, kegiatan Ziarah Wali berjalan lancar. Kami ucapkan terimakasih kepada para wali kelas dan pendamping yang meluangkan waktunya untuk mengantar dan mendampingi anak-anak kelas 9”. Tutup Abdul Ghofur. (Humas)

MTsN Gresik – Madrasah Tsanawiyah Negeri Gresik kembali menerima Prestasi dari anak didiknya. Prestasi yang diraih pada kesempatan ini adalah juara pada lomba Tari Kreasi dan Tradisional tingkat Kabupaten Gresik

Perlombaan tari kreasi tradisional  merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengangkat talenta seni tari tradisional, dalam pelestarian melestarikan serta memajukan seni tari tradisional.

Patut berbangga, dua peserta didik perwakilan dari MTsN Gresik, Nadin Kaiffa Gendis Annasya kelas 7B meraih juara I kategori Group, dan Aurelia Piki Azzahrah. kelas 7H meraih juara I kategori Tungal. Prestsii diraih dalam ajang Seni Tari Kreasi Tradisional, yang diselenggarakan oleh FY. Project bertempat di Food Park Gunawangsa Gresik. Minggu, (04/02)

Tarian kreasi tradisional adalah gerakan tubuh yang ritmis sebagai ungkapan ekspresi jiwa pencipta gerak, hingga menghasilkan unsur keindahan dan makna yang mendalam. Sementara tarian tradisional atau tarian rakyat adalah tarian yang tumbuh di tengah masyarakat dan biasanya dilestarikan turun temurun.

Abdul Aziz selaku Waka Kesiswaan mengungkapkan bahwa, Madrasah memberikan wadah untuk peserta didik yang memiliki potensi di Seni Tari. Anak-anak dapat mengembangkan kreativitas bidang seni Tari Kreasi Tradisional saat ini diperlukan. Salah satumya melalui perlombaan seni tari tradisional, guna meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap nilai seni dan budaya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa dengan mempelajari Seni Tari Tradisional dapat memberikan nilai edukasi bagi pesert didik. Diantara nilai edukasi yang didapat adalah menumbuhkan kepekaan rasa estetik dan artistic sehingga nantinya terbentuk sikap yang kritis, apresiatif, dan kreatif pada diri peserta didik.

“Semoga peserta didik lebih bisa memahami tentang tarian yang sudah dilombakan. Peserta dapat lebih mempersiapkan satu karya tari tradisional yang mengedepankan budaya lokal,” ujarnya

Sementara itu, kepala madrasah bapak Pamuji memberikan apresiasi untuk Nadin dan Aurelia atas keberhasilannya meriah juara I pada lomba Seni Tari Kreasi Tradisional. Dengan prestasi yang diraih, semoga dapat menmbah wawasan dan pengalaman baru, serta mampu menjadikan dirinya lebih disiplin. Terutama bisa menjadi inspirasi bagi teman-temanya.

“selamat dan sukses, terus dikembangkan talenta yang dimiliki. Sehingga nanti bisa terus berprestasi di berbagai ajang yang diikuti tentunya di dunia Seni Tari Tradisional”. Tutup Pamuji. (Humas)

MTsN Gresik – Madrasah Tsanawiyah Negeri Gresik menggelar peringatan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini bertempat di GOR, dan diikuti oleh seluruh peserta didik, dewan guru, dan tenaga kependidikan. Rabu, (07/02)

Peringatan Isra’ dan Mi’raj digelar dengan tujuan agar peserta didik mampu menanamkan hikmah dan nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj, serta menumbuhkan semangat beribadah dan berakhlak mulia. Hal itu sesuai dengan tema Peringatan Isra’ dan Mi’raj yaitu, “Mewujudkan Generasi Muda yang Bermoral dan Beriman”.

Sebelum acara di mulai, diisi oleh penampilan Group Banjari untuk menghibur dan memeriahkan acara, dengan harapan lantunan shalawat dapat meraih syafaat Nabi Muhammad SAW. Berakhirnya tahun tampilan Group Banjari, dilanjutkan dengan Istighosah bersama yang dipimpin oleh Ustdz. Nuril Huda dan Ustadz Malikussoleh, dengan tujuan meminta pertolongan agar keluarga besar MTsN Gresik diberikan kelancaran dan keberkahan.

Dalam sambutannya, kepala madrasah bapak Pamuji berpesan kepada seluruh peserta didik untuk memperhatikan shalat lima waktu.

“Jadikan momentum peringatan Isra’ dan Mi’raj ini untuk mengevaluasi shalat kita. Kita upayakan agar shalat lima waktu yang kita kerjakan setiap hari bisa lebih baik lagi, lebih-lebih mengawali shalat di awal waktu.” Ungkapnya.

Lebih lanjut, beliau menambahkan, bahwa dengan melakukan shalat di awal waktu akan menumbuhkan karakter disiplin dan tanggung jawab. Oleh karenanya, Ia meminta kepada seluruh peserta didik agar rajin dan tidak meninggalkan shalat.

Begitu pentingnya shalat, karena dapat membentuk perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai generasi muda, tentu memiliki harapan untuk menjadi generasi yang brilian. Oleh karenanya, untuk menjadi generasi yang brilian, bermoral dan beriman harus memiliki sikap positif, hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Ustadz Marzuki Imron dalam tausiyah yang disampaikan.

Sikap yang pertama adalah mentalnya percepatan; artinya menjadi pribadi yang selalu ingin selangkah, atau bahkan sepuluh langkah lebih maju dari orang lain. Generasi muda dengan keinginan selangkah lebih maju selalu tertantang untuk memberikan yang terbaik dalam setiap hal yang dikerjakannya. Ia juga tertantang untuk selalu kreatif mencari cara terbaik untuk satu langkah lebih dekat dengan impiannya, dengan tujuannya.

Menjadi anak muda yang berpikir lebih maju. Ketika orang lain belum melakukan, ia sudah melakukan lebih dulu. itulah mental percepatan. Dikarenakan generasi muda yang tergolong seperti ini, mereka mampu memanfaatkan waktu dengan baik. Setiap orang memiliki potensi, namun tidak banyak yang mampu memanfaatkan waktu dengan baik.

Kemudian, sikap yang kedua adalah; Bersahabat dengan yang terbaik. berteman boleh dengan siapapun, tetapi kalau bersahabat harus pintar-pintar memilih. Bersahabat dengan orang shalih, maka akan berdampak baik. Karena akan membawa kepada kebaikan, sebaliknya jika sahabat itu buruk akan membawa kepada keburukan. Maka, untuk bisa menjadi generasi muda yang bermoral dan beriman harus bisa memilih orang yang tepat dan terbaik.

Semoga peringatan Isra’ dan Mi’raj ini bisa meningkatkan kualitas, kuantitas iman dan taqwa kepada Allah SWT, dengan mengedepankan Akhlakul Karimah dalam berperilaku di kehidupan sehari-hari serta tetap menjaga shalat lima waktu lebih baik lagi. (Humas)

Oleh: Marjuki

Mengkaji Pembelajaran Terdiferensiasi tiada habisnya. Betapa tidak. Di mana-mana selalu terjadi mispersepsi bahkan miskonsepsi. Mispersepsi maupun miskonsepsi akan menimbulkan mala praktik dalam pendidikan. Disadari atau tidak kejadian ini lambat laun berdampak kepada murid. Situasi ini perlu upaya serius untuk meminimalkan dampaknya.

Upaya cerdas MTs Negeri Gresik perlu diapresiasi. Dalam situasi serba salah karena mispersepsi dan miskonsepsi banyak terjadi di belahan nusantara. Darpada menyalahkan kegelapan lebih baik menyakan lilin. Lilin menyala menyebabkan lingkungan belajar menjadi terang benderang. Langkah cerdas yang gercep (gerak cepat), yang wat wet, dan sat set diperlukan untuk exit strategiy dan/atau strategy exit

Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Penguatan Pembelajaran Terdiferensiasi dan P5PPRA menjadi salah satu effort MTs Negeri untuk meretas mispersepsi dan miskonsepsi agar tidak berkepanjangan dan dampaknya meluas. Jika dampaknya dibiarkan meluas akibatnya yang dirugikan tidak lain adalah murid kita.

Terkait dengan konsepsi. Ada tiga macam, yaitu ada kalanya orang; (1) tahu konsep, (2) tidak tahu konsep, dan (3) miskonsepsi. Orang dikatakan tahu konsep, jika konsepnya benar dan yakin benar. Kagori ini ada, tetapi tidak banyak jumlahnya. Orang dikatakan tidak tahu konsep jika konsepnya benar tetapi tidak yakin kalau benar atau konsepnya salah tetapi tidak yakin kalau salah. Kategori ini biasanya paling banyak jumlahnya. Orang dikatakan miskonsepsi jika konsepnya salah tetapi yakin benar. Orang seperti ini disebut mengalami miskonsepsi. Orang yang mengalami miskonsepsi biasanya ngeyel, merasa benar sendiri, kadang sok pinter, sok jago, dan tidak mau mengalah. Kagori ini tidak boleh banyak, faktanya setiap satuan pendidikan jumlahnya tidak sedikit alias sangat banyak. Gak bahaya ta?

Miskonsepsi guru saat merancang pembelajaran. Biasanya guru mentukan tujuan pembelajaran-> merancang pembelajaran-> asesmen hasil belajar. Urutan tersebut benar, tetapi zaman dulu, sebelum pembelajaran terdiferensiasi. Pada saat ini yang benar adalah guru melakukan asesmen awal untuk mengases; kesiapan belajar, gaya belajar, kebutuhan belajar, kesulitan belajar, hobby, kesenangan, dan tingkat perkembangan murid.

Mengapa selama ini pembelajaran jauh dari efektif? Hal ini dapat dijelaskan dengan dua alasan, yaitu; (1) Guru tidak tahu kebutuhan murid, dan (2) Guru tidak tahu bagaimana cara memenuhi kebutuhan murid. Oleh karena itu guru harus tahu kebutuhan murid. Kebutuhan murid berbeda-beda karena; kesiapan, gaya belajar, bakat, minat, hobby, kesukaannya berbeda-beda. Kebutuhan ini dapat diketahui guru jika dan hanya jika guru melakukan asesmen awal. Jika guru melakukan asesmen awal maka guru memiliki profil murid. Setelah guru tahu kebutuhan murid yang disusun dalam profil murid, maka guru dapat merancang pembelajaran sesuai kebutuhan yang beragam.

Guru merancang pembelajaran sesuai dengan kebutuhan murid. Guru memperhatikan gaya belajarnya, bakatnya, minatnya, hobbynya, kesukaannya, kesuulitannya, dan tingkat perkembangannya. Melihat fakta yang beragam di kelas, maka guru akan merancang pembelajaran sesusai kondisi yang dominan, dan dilaksanakan secara variatif. Dengan cara, strategi, teknik yang variatif, maka pembelajaran akan dapat memenuhi kebtuhan belajar murid yang beragam.

To be continued

Gresik, 21 Januari 2024

 

Oleh: Marjuki

Pada artikel sebelumnya membahas guru merancang pembelajaran belum melakukan asesmen awal. Akibat dari tidak melakukan asesmen awal, antara lain; guru tidak tahu kebutuhan murid, dan tidak tahu cara memenuhi kebutuhan murid. Apa yang terjadi? Guru ujug-ujug merancang pembelajaran tanpa tahu kebutuhan murid.

Terkait hal di atas, bisa jadi guru sudah merasa luar biasa di kelas. Murid dibuat sibuk kegiatan. Banyak mengerjakan soal. Tugasnya bertubi-tubi. Guru menjelaskan dengan baik. Murid bisa duduk diam tumaknina saat guru menjelaskan. Guru merasa semua informasi sudah disampaikan, tidak ada yang tersisa. Semuanya diberikan dengan ikhlas, tanpa pamrih untuk murid sendiri.

Sekalipun guru merasa telah memberikan semua ilmunya. Murid-murid berhasil dibuat sibuk. Murid-murid tidak sempat bermain. Tidak ada hari tanpa tugas. Akan tetapi sejatinya apa yang dilakukan masih belum memenuhi kebutuhan murid. Murid memiliki bakat, minat, gaya belajar, hobby, kesukaan, kesulitan, kesiapan belajar berbeda-beda tidak di ketahui dan tidak tahu cara memenuhinya. Hal ini terjadi karena tidak punya data profil murid.

Miskonsepsi kedua, mengelompokkan murid di kelas berdasarkan gaya belajar, minat, bakat, kecepatan belajar, dll. Dapat dibayangkan jika di dalam kelas terdapat ada 20 keberagaman, maka konsekuensinya ada 20 cara, strategi, metode pembelajaran. Jika hal ini terjadi dapat dipastikan betapa semrawutnya pembelajaran. Mengingat guru bukanlah malaikat bersayap yang bisa terbang ke sana kemari dalam waktu bersamaan. Dalam gurauan orang Surabaya, “ledeh tun”.

Gaya belajar digunakan untuk pengelompokan. Apalagi kalau murid tahu dan diberi tahu kalau mereka termasuk kelompok; Audio, Visual, Kenestetika, Audiovisual, dst. Hal ini tidaklah bagus jika kelompoknya selalu demikian. Bisa jadi murid menjadi malu dan minder jika mereka tahu dalam kategori kelompok tersebut. Selain murid malu, minder juga merasa dibuli oleh gurunya sendiri. Terutama kelompok kinestika. Kelompok kinestetika dianggap mereka yang sering membuat onar, gaduh, kisruh, dsb.

Pengelompokan ini penting dalam pembelajaran untuk melatih kolaboratif, koperatif, gotong royong, menghargai, menghormati, mengakomodasi aspirasi orang lain, dan sabar dalam bekerja sama. Oleh karena itu perlu pengelompokan. Celakanya pengelompokan ini dibuat permanen. Akibatnya murid bisa kerja sama jika dan hanya jika dengan kelompoknya sendiri. Dikawatirkan jika dilakukan permanen bisa membentuk geng (semoga tidak).

Pengelompokan permanen kita hindari. Pengelompokan bukan sekedar berkelompok, akan tetapi dalam rangka memudahkan memberikan layanan. Pengelompokan bukan dimaknai agar nurid lebih mudah dikendalikan sehingga pembelajaran terkendali. Pemberian layanan agar murid berkembang secara maksimal, baik di kelas intrakurikuler maupun di luar intrakurikuler.

Dasar pengelompokan yang tepat mengikuti model pembelajaran. Setiap model pembelajaran memiliki empat ciri khusus menurut Richard Arends (1997); 1) memiliki tujuan, 2) memiliki sintaks, 3) memiliki lingkungan belajar (termasuk pengelompokan), dan 4) pengelolaan keseluruhan. Ada model yang mensyaratkan kelompoknya homogen dan ada yang heterogen. Jadi jika mau mengelompokan murid perhatikan model apa yang digunakan.

Sayangnya tidak sedikit yang sudah melupakan pendekatan, model, strategi, metode, teknik pembelajaran. Dapat dibayangkan bagaimana cara membelajarkan muridnya. Dikawatirkan model yang digunakan adalah model ngawurisasi. Tanpa model yang jelas, yang penting bisa datang mengajar. Yang paling miris adalah saat masuk kelas pembelajaran, lupa dengan materinya. Setiap memulai mengajar selalu bertanya kepada murid yang duduk paling depan, “kemarin materinya sampai dimana ya? Jika materinya saja lupa, terus bagaimana dengan kompetensi yang akan dilatihkan?

Dalam kondisi seperti ini seyogya Perguruan Tinggi (PT) harus hadir membersamai para guru di sekolah sekitarnya. Sebagai tanggung akademis dan pengabdian masyarakat. Sayangnya masih belum tergerak, bergerak, dan berdampak. Tidak sedikit perguruan tinggi masih terjerat budaya menunggu dan menunggu. Terkadang sibuk dengan diri sendiri. Tidak salah jika seperti menara gading.

Semoga terinspirasi dan makin penanasaran lajutannya.

To be continued

Gresik, 24 Januari 2024

Oleh: Marjuki

Universitas Qomaruddin Gresik

Fasilitator Program Sekolah Penggerak

Pada artikel sebelumnya sudah dikupas tiga miskonsepsi. Hakikat miskonsepsi sulit dihilangkan, akan tetapi dapat digeser proporsinya. Terkait miskonsepsi terdapat tiga kategori,  yaitu; Tahu konsep, tidak konsep, dan miskonsepsi. Tahu konsep, bila konsepnya benar dan yakin benar. Biasanya yang tahu konsep jumlanya tidak banyak. Tidak tahu konsep ada dua macam. Ada orang yang konsepnya benar tetapi tidak yakin benar atau konsepnya salah tetapi tidak yakin kalau salah. Kategori orang yang tidak tahu konsep jumlahnya banyak dan proporsinya dominan.

Kategori ketiga, yaitu miskonsepsi. Dikatakan miskonsepsi jika konsepnya salah tetapi yakin benar. Orang seperti itu biasanya “ngeyel”. Tidak mau kalah sekalipun salah. Biasanya tidak merasa salah karena yakin benar. Secara teori proporsinya tidak boleh besar. Fakta di lapangan proporsinya paling besar. Hal demikian ini menjadi perhatian Pemerintah Pusat. Pemerintah Pusat melatih guru secara langsung. Tidak melalui Instruktur Provinsi (IP), tidak melalui Instruktur Kabupaten (IK) seperti Kurikulum 2013. Untuk mengurangi miskonsepsi, Pemerintah Pusat melakukan advokasi.

Strategi advokasi paling tidak ada 6 macam, yaitu; 1) Pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar (PMM), 2) Seri Webinar dari Pusat dan Daerah, 3) Komunitas Belajar tingkat satuan pendidikan, Daerah, dan Komunitas daring, 4) Narasumber Praktik Baik, 5) Pemanfaatan Helpdesk, dan 6) Mitra Pembangunan. Strategi advokasi terus diperbaiki dengan segala inovasi untuk mengatasi masalah dan kendala. Namun demikian miskonsepsi tetap saja proporsinya masih dominan. Perlu kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas semua pihak untuk mengurangi proporsi miskonsepsi.

P5 bertujuan untuk menguatkan berbagai kompetensi dalam Profil Pelajar Pancasila bukan untuk mencapai CP (Capaian Pembelajaran) mata pelajaran. Fakta di lapangan dalam Modul P5 selalu dimunculkan CP mata pelajaran. CP mata pelajaran muncul karena JP (jam pelajaran) projek dianggap bagian JP mata pelajaran. Hal ini merupakan miskonsepsi keempat. Misalnya Matematika ada 4 JP dalam struktur kurikulum disebar menjadi 3 intrakurikuler dan 1 JP di projek. Guru matematika merasa 1 JP ada di projek, maka yang membina harus guru matematika. Kegiatan P5 lepas dari kegiatan intrakurikuler. Pembimbing, fasilitator, tim projek tidak harus terkait langsung dengan guru mapel.

Projek penguatan profil pelajar di madrasah diproyeksikan pada dua aspek, yaitu; 1) Profil Pelajar Pancasila dan 2) Profil Pelajar Rahmatan lil Alamiin. Pelaksanaannya bersamaan dan terintegrasi dalam kegiatan dan laporan. Asesmen dilakukan pada dua aspek yaitu karakter, nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin. Fakta di lapangan asesmen terpaku pada produk. Hal ini merupakan miskonsepsi kelima. Produk harus bagus, keren, dan spektakuler. Penumbuhan karakter misalnya berpikir kritis, kreatif, gotong royong dalam proses sering tidak terobservasi dan tidak terukur. Jika ditanya mana hasil P5-P2RA pasti ditunjukkan produk yang bagus, mewah, dan megah. Bukan poster-poster perubahan karakter sebelum dan sesudah projek. Tidak heran jika ada tamu selalu diperkenalkan, dipertontonkan produk vas bunga, pigora, mesin pemotong rumput, video tari-tarian, dll. Jika ditanya bagaimana perubahan karakternya, jawabnya bingungnya setengah mati.

Jika dalam mengimplikasikan projek ada kegagalan tidak menjadi masalah. Setiap ada kegagalan dijadikan bahan refleksi. Dalam melakukan refleksi, paling tidak ada empat macam pertanyaan, yaitu; 1) Apa yang perlu dipertahankan? Karena sudah baik maka perlu dipertahankan, 2) Apa yang perlu ditingkatkan? Karena sudah baik tetapi bisa dibuat lebih lagi, belum maksimal, 3) Apa yang perlu dikurangi? Mungkin tidak banyak manfaatnya, mubazir, dan 4) Apa yang perlu dihilangkan? Mungkin terkait tiga dosa besar pendidikan, yaitu; kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi. Hasil refleksi direkomendasikan untuk diperbaiki disusun dalam bentuk RTL (Rencana Tindak Lanjut).

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat. Mari kita sepakat untuk tidak lelah saling menginspirasi kapan saja, dimana saja, dan bagaimana pun kondisinya. Allahumma aamiiin.

 

Gresik, 04 Pebruari 2024.


(MTsN Gresik) – Prestasi kembali ditorehkan oleh peserta didik MTsN Gresik. Kali ini datang dari atlet Taekwondo, Andika Aflah Budi P kelas 9B. Prestasi yang diraihnya dalam Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Taekwondo Antar Pelajar se-Jawa Timur seri ke-II tahun 2023.

Kejurprov digelar selama 4 hari, pada tanggal 14-17 Desember 2023, bertempat di GOR Wilis Kota Madiun.

Kejurprov yang digelar ini adalah dengan tujuan mencari bibit-bibit atlit yang unggul sebagai pengembangan cabang olahraga taekwondo. Selain itu, Kejurprov juga sebagai sarana untuk menguatkan mental dan fisik atlit dalam bertanding serta menghadapi lawan tanding.

Dalam Kejurprov yang digelar di GOR Wilis Kota Madiun ini, Alhamdulillah, atlet taekwondo MTs Negeri Gresik, Andhika Aflah Budi dari kelas 9B sukses meraih juara I di kelas Poomsae Cadet M-Individual dan Cadet Pair.

Prestasi yang diraih tidak luput dari peran orang tua yang selalu memberikan support dan do’a, serta bimbingan dan motivasi dari bapak ibu guru, sehingga Andika selalu meraih prestasi dalam setiap ajang yang diikuti.

“Trimakasih banyak atas prestasinya, yang membawa harum nama lembaga madrasah di masyarakat.” Ungkap kepala madrasah, Pamuji. (Humas)

MTsN Gresik – Madrasah Tsanawiyah Negeri Gresik menggelar kegiatan “Farewell Party II” program Fun Learning Interactive English Society (FLIES) dengan tema “Don’t Decrease The Goal, Increase The Effort” bekerjasama dengan “Cambridge English Course (CEC) Pare, Kediri, Jawa Timur. Selasa, (12/12)

Bertempat di Gedung Pendidikan Islam (GPI), Farewell Party dihadiri oleh para Wakil Kepala, Agus Mulyono Direktur (CEC) Pare, dan wali murid Peserta.

Kegiatan Farewell Party angkatan II tahun 2023 ini dikemas berbeda dengan tahun pertama, di mana dalam pelaksanaannya mengundang wali murid peserta FLIES untuk hadir menyaksikan ajang kreativitas dari anak-anaknya untuk menumbuhkan rasa bangga bagi orang tua atas prestasi yang sudah di gapai saat ini di FLIES.

Abdul Aziz selaku Waka Kesiswaan, mengatakan, peran orang tua sangat penting dalam program FLIES ini, para orang tua dari awal terlibat dalam program FLIES, oleh karenanya di kegiatan Farewell Party angkatan II ini mereka turut serta menyaksikan anak-anaknya.

“Orang tua akan merasa bangga dengan apa yang sudah dilakukan oleh anak-anak di Program FLIES. Ketrampilan berbahasa Inggris begitu dikuasai, dan hari ini mereka eksplor dalam setiap penampilan”. Terangya.

Rangkaian acara pada kegiatan Farewell Party angkatan II ini diisi oleh peserta program FLIES dari kelas 9. penuh kreatifitas, seperti drama musikal, tari, singing, dan lainnya.

Agus Mulyono selaku Direktur Cambridge English Course (CEC) Pare, menyampaikan dalam sambutannya bahwa, Bahasa Inggris menjadi tantangan tersendiri bagi anak-anak. untuk bisa menguasainya harus melewati kesulitan-kesulitan, maka support dan peran orang tua harus ada bagi anak-anak.

“Don’t stop Studying, you have to make your goal strong in your mind and you should believe in yourself that, you can do it.” terang Mrs. Agus kepada peserta FLIES.

“Belajar Bahasa Inggris tidak harus berhenti hari ini. perjalanan masih panjang, jangan pernah menyerah dan putus asa, teruslah belajar Bahasa Inggris, karena akan berguna di masa depan.” Pesan Abdul Aziz, Waka Kesiswaan. (Humas)

 

MTsN Gresik – Madrasah Tsanawiyah Negeri Gresik menggelar acara Parenting. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pendidikan Islam (GPI) diikuti oleh wali murid beserta anak-anaknya dari kelas 7 dan 9. Selasa, (05/12).

Parenting di Era Digital yang bertajuk “Wujudkan Versi Terbaik Anak dan Orang Tua” disampaikan langsung oleh Ibu Dita Amalia, (Plato Foundation) dari Surabaya.

Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memberikan edukasi kepada orang tua agar bijak menyikapi era digital, khususnya penggunaan media sosial. Sehingga anak-anak bisa merasa nyaman dan aman bermedia sosial, karena adanya pengawasan dari orang tua secara bijaksana.

Di era digitalisasi ini orang tua harus bijak dalam menyikapi kemajuan teknologi. Akses informasi yang semakin mudah, maka orang tua memiliki peran penting dalam penggunaan media sosial. Salah satu peran strategis yang harus dimilikinya adalah memberikan contoh yang baik bagi dalam penggunaan media sosial kepada anak-anaknya.

Pengguna media sosial tidak hanya dari kalangan anak-anak, orang tua juga mendominasi. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk bisa memfilter dan mengawasi anak-anak nya dalam media sosial.

Pengawasan dilakukan oleh orang tua agar anak-anak tidak sampai terjerumus pada hal-hal negatif, yang bisa membahayakan dan merugikan dirinya.

Dita Amalia, dalam penyampaiannya memberikan tips bagaimana agar hubungan orang tua dengan anak bisa kompak dalam hal menyikapi penggunaan media sosial secara positif.

Salah satunya, yaitu dengan membangun komunikasi antara orang tua dan anak. Hal ini dapat membuat kedekatan dan kebersamaan. Sehingga segala bentuk hal yang dianggap tidak sesuai bisa diselesaikan melalu komunikasi secara intens. Orang tua memberikan ruang kepada anak untuk berekspresi, disertai bimbingan dan pengawasan.

Selain itu, owner Plato Foundation menegaskan bahwa salah satu pilihan yang dapat dilakukan adalah dengan penerapan pendekatan disiplin positif terhadap anak. Dengan pendekatan ini maka seorang anak akan memahami dan mengontrol perilakunya dengan kesadaran, bertanggungjawab, atas tindakannya dengan tetap menghormati diri sendiri dan orang lain.

“Perlunya membangun kesamaan antara orang tua dan anak agar bijak bermedia sosial adalah dimana orang tua menerapkan pola pengasuhan terbaik di era Digital melalui keteladanan. Karena anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Berikan contoh yang baik kepada anak-anak kita.” Tutupnya. (Humas)